zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Sebelum Hari Valentine

Sebelum Hari Valentine
Pada natal terakhir dalam hidupku, Sumire datang memberi sebuah hadiah kecupan di bibir, lidah, dan leherku. Tak begitu ku mengerti apa maksud dari ciuman itu selain sebuah salam perpisahan karena dari diagnosis dokter Alex, waktuku tidak akan sampai pada valentine tahun depan. Aku juga tidak begitu optimis ketika Tante Anis memberi dukungan moral ketika pencucian darah pertamaku. Aku mencari informasi tentang riwayat penyakit yang kuderita: gagal ginjal.

Bukan. Bukan. Bukan ini yang membuat Sumire meninggalkanku. Jika memang karena penyakit ini, pasti pada saat malam perayaan natal ia tidak perlu repot-repot datang dan memberiku sebuah salam perpisahan. Usut punya usut, kami ngobrol banyak hal setelah tidak berhasil menyuruhnya pulang. Air mata lagi-lagi mengalahkanku. 

“Faris mencampakkanku..,” Sumire berkata dengan bibir bawahnya yang bergetar menahan tangis.

“Kenapa melapor denganku?”

Sumire baru saja hendak menjatuhkan pelukan namun segera kutolak. Aku tidak percaya dengan adanya karma. Ini mungkin hanya sebab akibat yang terjadi di setiap kehidupan.     Tidak ada lagi yang kupunya saat ini. Hanya tinggal benar-benar menghabiskan waktu dengan sebaik-baiknya dalam beberapa hari ini dengan orang-orang yang memang menyayangiku. Sumire tampak canggung, begitu juga denganku. Keheningan sedang asik merayu kami hingga suara ketuk pintu memecah suasana. Tujuh kali ketukan dengan nada yang sangat kukenali.

“Ram,” sapa Riani, kemudian melihat Sumire,”Heii..”

“Masuk, Ri,” kataku dengan senyum nanti-akan-ku jelaskan.

“Kenalkan, Ri, Sumire.” aku mencoba membangun sebuah suasana agar terlihat nyaman untuk kami bertiga,”Re, ini Riani, pacarku.” tegasku.

Riani memukul lenganku, kemudian mengambil tangan Sumire.

Ditangan Riani, terdapat satu ikat durian yang berisi tiga buah. Durian memang kesenangan kami berdua. Aku dan Riani bertemu di suatu malam di tempat penjual durian favoritku. Ia sedang bersama adik laki-lakinya. Saya duduk dikursi plastik hijau dengan sudah melahap habis satu buah pertama. Kemudian beralih ke buah berikutnya.

“Besar-besar nih, Mas Gun. Enak,” kataku dengan durian yang masih kulumat.

“Khusus untuk mas, hehehe,” jawab Mas Gunawan,”Obat patah hati?”

“Aku bingung deh Mas Gun dengan orang-orang yang tidak menyukai durian. Aneh.”

“Kan selera orang beda-beda,” potong perempuan yang menunggu pesanannya.

“Iya, Mas. Betul itu, selera orang beda-beda,” lanjut mas Gunawan.

“Tunggu-tunggu, kenapa sekarang saya yang salah?” tanyaku masih bingung dengan ucapan perempuan itu yang menyerobot pembicaraanku dengan Mas Gun.

“Bukan menyalahkan, meluruskan,” kata perempuan itu lagi.

“Betul itu, Mas,” kata Mas Gun membenarkan perkataan perempuan itu.

“Keluarga yah?” tanyaku kepada Mas Gun.

Kami semua tertawa.

“Hei, Ramok.” aku menarik kembali tangan kananku yang kotor dan memberi tangan kiri,”Sori, yang kanan bau.”

“Riani.” perempuan itu sedikit heran dengan cara berkenalan yang sungguh tidak biasa,”Ini adikku, Randy.

“Hei, Randy!”

Randy membalasku dengan dua tangannya yang membentuk metal.

Setelah Mas Gun selesai memisahkan isi dan kulit durian, ia menaruhnya ke tupperware yang dibawa Riani. Dan ketika Riani menukarkan uangnya untuk durian tersebut, ia segera pulang setelah menyapaku.

“Cantik tuh, Mas,” rayu Mas Gun.

“Kayaknya udah punya anjing, Mas.”

“Ha ha ha,” kami berdua tertawa.

---

Aku mengambil durian ditangan Riani. Ingin menaruhnya ke dalam dapur, namun Riani menghentikanku untuk katanya dimakan bersama-sama. Aku melihat Sumire. Ia balik melihat Riani setelah ditawari dan Sumire membalasnya dengan anggukan. Aku tahu itu karena terpaksa keadaan saja. Aku tahu, selain durian yang diolah menjadi kue, ia tidak begitu menyukainya karena merasa jijik dengan tekstur. Aku hanya menuruti permintaan Riani dan mengambil kain untuk kupakai membelah durian agar durinya tidak mengenaik tanganku.

Ada dua belahan yang kemudian kubagi menjadi tiga setelah membagi lagi belahan tersebut. Aku mencomot durian itu tanpa ragu-ragu. Sebelum mencomot juga, Riani terlebih dulu menawari Sumire. Namun tanpa menunggu, tampaknya RIani sudah ngiler dan mencomot juga. Sumire melihat dengan kebingungan, kemudian memberanikan diri mengambil satu setelah Riani menyodorkan belahan yang lain kepada Sumire. Tangan Sumire bergerak pelan diudara, lama sekali sampai benar mendarat pada permukaan durian yang saat ia pegang terasa lengket dan menjijikkan baginya. Aku tahu itu dari raut muka yang berusaha ia sembunyikan. Sumire melayangkan durian itu ke mulutnya untuk dilumat. Raut mukanya mulai berubah. Menjadi merah, dan akhirnya mengeluarkan semua dalam bentuk bentuk muntahan.

Riani bergegas mengambil pel dan lap untuk membersihkan muntahan Sumire. Sementara Sumire tampak kebingungan dan mencoba membantu Riani. Aku hanya menyaksikan kejadian itu. Menunggu momen itu selesai agar aku bisa melanjutkan melahap durian yang ada didepanku.

“Sumire tidak suka dengan durian, maksudku, selain durian yang sudah diolah ia tidak memakannya.” jelasku kepada Riani.

“Kenapa tidak bilang?”

Entah pertanyaan itu ditujukan kepada siapa. Namun sepertinya kepadaku karena nadanya agak tinggi.

“Kupikir sudah tidak. Lagipula, ia sendiri yang mengiyakan.”

“Tidak apa-apa, aku hanya mencoba membaur,” kata Sumire,”Maaf merusak natal kalian.”

“Natalnya,” kata Riani,”Aku Muslim.”

“Oh, maaf.”

“Tidak masalah, kau bukan orang pertama.”

---

“Maaf, Re,”

“Untuk apa, Ram? Aku yang mencampakkanmu. Ingat? Aku yang menang disini, Ram. Aku.”

Ramok memeluk Sumire yang menumpahkan segala kesedihan dalam bentuk air mata. Riani tidak melihat kejadian tersebut karena ia masih berada dalam kamar apartmen sementara mereka berdua diselimuti berbagai macam potongan kenangan di parkiran yang begitu sunyi. Setelah Sumire pergi, tidak ada lagi yang tersisa untuk mereka. Hanya kenangan yang kemudian dikubur bersama di 18 Januari 2018.

(sumber ilustrasi: Kompasiana)

Arsip 2020

Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar