zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Wasiat Ibu


Bulan terakhir arisan, Ibuku meninggal. Di pemakaman Ibuku yang cukup ramai, tidak ada satupun yang aku kenali. Semuanya asing. Oh, mungkin hanya Paman Ben. Salah satu keluarga yang masih ada. Meski pemabuk dan punya hidup yang suram, ia punya pendirian yang baik. Mabuk tidak mesti sendiri, rokok tidak mesti dibeli. Ada satu hal yang benar-benar kusukai darinya. Sebut saja itu hadiah tahun baru. Sejak kecil, Paman Ben tak pernah absen memberiku dan teman-teman petasan. Paman Ben sering sakit-sakitan, seringkali ditemukan bekas ludah kering bercampur darah pada tisu yang tercecer disekitar tempat tinggalnya. Namun lihatlah, Ibuku pergi lebih dulu ketimbang Paman Ben. Sekarang aku sudah dewasa, menjelang kepala tiga, tanpa istri dan bekerja buruh tulis disalah satu media cetak. Tak ada lagi petasan dari Paman Ben sejak Ibuku melarang.

Paman Ben melihatku, dia menghampiri, menepuk pundakku dua kali. Setelah ia pergi, seorang laki-laki dengan tampilan kasual dan perawakan sedikit kemayu menghampiriku.
“Deno?” katanya memastikan.

“Siapa yah?” tanyaku.

Ia menarik tangannya dari saku celana,”Oh maaf, perkenalkan, Madi. Teman ibumu.”

“Ada perlu apa?” tanyaku lagi.

Ia tidak menjawab. Sesekali hampir keluar suara dari bibirnya namun hanya sampai tenggorokan.

“Jika Ibuku meninggalkan hutang, maaf aku tidak, maksudku, belum bisa membayarnya.”

“Oh, tidak, tidak, percayalah, Ibumu bukan tipe orang yang sering berhutang. Banyak sifat Ibumu yang tidak aku sukai, hutang bukan salah satunya.”

Waktu itu, area pemakaman sudah mulai sepi. Orang-orang pulang. Yang tersisa tinggal beberapa pelayat, termasuk aku dan Madi. Di ujung jalan, masih ada beberapa tukang bersih yang menunggu para pelayat datang sambil menjajakan air dan bunga. Dia mengajakku untuk meninggalkan kuburan Ibu. Sebelum hendak berjalan, ia menahan sebagian pundak dan leherku agar berhenti.

“Sebelum lebih jauh berjalan, pastikan tiga langkah dari sini kau sudah mengikhlaskannya.”

***

Sebuah surat dari ahli waris diberikan kepadaku. Isinya sebuah surat, dari Ibuku. Kubaca dengan perlahan.

Untuk Deno, anakku.

Maaf nak, jika membaca ini, artinya Ibu sudah tidak lagi bersamamu. Atas segala yang Ibu perlakukan, ajarkan, sampai berikan semoga tidak membuatmu menjadi orang yang salah dalam mengambil sikap. Selama hidup, mungkin Ibu bukan sesempurna gambaran seorang Ibu dalam kepalamu. Jarang di rumah, komunikasi denganmu tidak pernah dua arah, selalu saja Ibu berlaku sangat keras kepadamu. Sungguh, itu bukan kemauan Ibu. Itu lebih kepada Ibu sayang padamu. Percayalah.

Lihat, Ayahmu, seandainya dia menuruti nasehat Ibu, mungkin dia masih bersama kita, paling tidak denganmu.

Ada sebuah brankas di belakang rumah. Galilah di dekat pohon jambu yang sering Ibu sebut. Kau pasti tahu. Lihatlah. Ada sedikit peninggalan yang bisa Ibu berikan. Menulislah yang rajin. Ibu percaya, tulisanmu bagus, beberapa kali Ibu membacanya.

Orang yang memberi surat ini adalah teman Ibu, ahli waris, namanya Reta . Jika sudah membaca ini. Ucapkan ini padanya: “Kamu cantik.”

Selesai membaca, kepalaku masih mencoba mencerna.

“Katakan,” kata ahli waris itu.

“Apa?” tanyaku.

Dia melirik kertas itu.

“Oh,” aku melihat kertas kembali,”kamu cantik.”

Terlihat ia menahan senyum dengan berusaha terlihat biasa saja,“oke, terima kasih. Tugasku sudah selesai.”

“Apa itu?” tanyaku, bingung.

“Kode. Pesan Ibumu.”

***

Bangku agak diperlebar. Ditambah kursi yang kududuki, dan perempuan yang tadi terlambat. Sekarang, aku mulai bisa mengamati wajah asing satu persatu. Disebelahku ada Madi, disebelahnnya ada seorang perempuan lagi, disampingnya ada seorang laki-laki yang menjadi teman ngobrolnya. Disamping laki-laki itu, ada laki-laki lagi, sedikit dingin dan misterius. Sempat kudapati ia berbicara dengan nada yang begitu pelan. Disampingnya, ada orang yang mengatakan dirinya Tante Jeni. Cerewet dan lebih banyak mengatur. Belum sempat kuamati yang lain, Madi kemudian berbicara.

“Selamat malam,” kata Madi.

“Selamat malam,” jawab kami semua.

“Dengan datangnya teman baru. Namanya Deno.”

“Sebelum arisan dikocok, untuk Deno mungkin ini adalah sebuah kebingungan. Tapi, ini sudah menjadi ritual kami,” kata Madi.

“Disesi ini, kami membuka sesi terapi. Setiap Bulan, orang-orang diberi kesempatan untuk mencurahkan perasaanya. Dan kami, akan menjadi pendengar yang baik. Hari ini imulai dari Iwan.”

Itu adalah orang yang akan membaca puisi.

“Tidak ada yang spesial bulan ini,” kata Iwan.

“Danang kalau begitu.”

Itu adalah lelaki misterius.

“Sudah!”

“Kenapa tidak ada yang mau. Bagaimana kalau kamu Deno! Sebagai orang baru, kami persilahkan kamu memperkenalkan diri,” kata Madi.

***

Malam ini, aku sudah bersiap dengan setelan tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu. Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahku, diiringi satu bunyi klakson panjang. Itu Madi. Dia menjemputku. Perluku denganya adalah bagian kecil dari pesan Ibuku. Sebelum pergi, aku mencopot dasi kupu-kupu itu dan melemparnya ke ranjang.

Dia membawaku ke sebuah rumah. Tidak terlalu besar namun punya halaman yang cukup luas. Kami masuk. Aku sedikit kaget, melihat beberapa wajah yang tidak asing. Orang-orang yang berada di pemakan Ibu sudah duduk membentuk sebuah lingkaran. Di depannya adalah sebuah meja kecil. Jantungku mulai terpacu. Aku tidak tahu apakah ini sebuah sekte, yang jelas aku hanya ingin keluar dari sana secepatnya.

“Aku teman Ibumu,” Suaranya agak cempreng,”Panggil saya tante, Jeni, Tante. Je-ni,” Ia mencoba agar aku mengeja.

Aku tidak bisa berpikir dengan baik. Ragaku disekap bersama sekawanan orang yang tidak aku kenali sedangkan pikiranku meracau kemana-mana. Aku diajak duduk, meneguk satu gelas air putih.

“Kau tahu manfaat air? Kau tahu jika meminum delapan gelas sehari?” kata seorang laki-laki.

“Kembung?”

Tiga orang disampingnya tertawa. Tante Jeni menggaruk kepala belakangnya yang ditutupi bolang haji.

“Maksudku, air minum ini sering diremehkan orang. Padahal, manfaatnya begitu besar. Tanpa air, kau akan dehidrasi. Sedikit bantuan kata, air bisa jadi puisi? Mau dengar?”

“Tidak usah,” kata seseorang disampingnya.

Pintu terbuka. Seorang perempuan dengan balutan gaun coklat dan lipstik merah jambu masuk,”Sudah dimulai?”

Tante Jeni menjawab,"Belum, Ta."

Aku mulai tambah panik. Dimulai? Apa yang akan dimulai. Madi, teman Ibuku hanya memberi tahu jika ini adalah sebuah arisan. Arisan terakhir dari Ibuku. Kehadirannku wajib jika ingin menerima arisannya. Seperti perjanjian Madi, kode brankas Ibuku.

“Oke, acara pertama akan segera dimulai. Siap-siap,” kata Madi.

***

Madi memberiku sebuah kunci yang ia janjikan beserta uang dari arisan sejumlah 30 juta rupiah. Setelah melewati beragam acara, akhirnya aku bisa membuka isi brankas peninggalan Ibu. Memang, aku kesal pada Ibu. Tapi apa yang ia beri tidak bisa aku tolak. Itu wasiat yang ia berikan padaku.

Madi mengantarku pulang. Ia lega mendengar seluruh keluh kesahku. Aku juga tidak tahu bisa selancar itu berbicara didepan orang baru. Aku banyak bicara. Mengatakan sejujurnya tentang Ibu dari sudut pandangku. Bahwa ia, adalah orang yang menjengkelakan meski aku sayang padanya. Orang yang kupikir tidak menyayangi sampai aku tahu ia masih mengingatku. Madi menurunkanku kemudian.

***

Karena terlalu lelah, aku ketiduran. Saat bangun, aku buru-buru ke belakang. Menggali tepat disamping pohon yang ibu katakan. Reta datang setelah sekop menghantam sebuah besi, yang kemudian aku tarik keluar. Sebuah brankas hitam dengan sebuah lubang kunci. Aku membuka brankas itu. Setelahnya, hanya air mata dan kerinduan.

- Arsip 2019
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar