zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Rumah Terakhir dan Sebuah Brankas

Rumah Terakhir dan Sebuah Brankas

Dua pasang kaki terlontang-lanting seiring matahari mulai naik. Dua laki-laki dengan paras layaknya gembel memandangi lautan dari arah yang berbeda. Amir Kote, salah satu pemimpin tertua dari sekumpulan orang-orang anti-masa-depan-cerah, melihat bagian kiri, bagian yang terhampar kapal-kapal ikan yang sedang menepi. One Budeg, bawahan Amir Kote, mempunyai prinsip: hidup boleh miris, status tetap eksis. Dengan hape merek Cina ditangannya, ia mengambil gambar lautan dari sebelah kanan, bagian yang kosong, hanya awan, bukit, dan lautan.

"Foto terus kau urus lah," gumam Amir Kote.

"Gini bang, ini aku harus eksis di Instagram. Kalo sehari aja ngga bikin Snapgram, followersku kurang satu, mereka kira aku udah ngga aktif." jelas One Budeg, tanpa menoleh.

"Budak hape lah kau itu."

Amir Kote selalu tahu kapan harus beraksi. Dengan keadaan yang kritis, ia memandang lautan, menikmati angin menerpa wajahnya yang penuh minyak.

"Rokok punya kau?" tanya Amir Kote.

"Ini bang, sisa dua." mengeluarkan rokok kretek Dji Sam Soe.

Amir Kote mengapit satu batang rokok diantara kedua jarinya. Lalu mengambil korek dari dari kantongnya. Amir Kote adalah orang yang selalu sedia payung sebelum hujan. Dikantongnya, selalu ada korek, entah untuk merokok atau membakar rumah orang. Yang terakhir, belum lama kejadiannya. Malam itu saat Amir Kote gagal merampok sebuah rumah seorang konglomerat kaya raya. Itu saja cuma keadaan terpaksa, karena tidak dapat apa-apa dan sidik jarinya sudah dimana-mana. Tidak mau ambil pusing, ia tinggal membakar gorden, lalu meninggalkan rumah itu hingga hangus jadi abu.

Rokok yang sudah terbakar, diisapnya pelan, dikeluarkannya pelan. Asap bergumul, menghalangi pandangan indah lautan seberang. Dikibas-kibasnya asap itu oleh Amir Kote hingga menyebar dan hilang tersapu angin.

"Malam ini kau ada kerjaan?" tanya Amir Kote dengan menghembuskan asap rokoknya.

One Budeg melirik Amir Kote, seolah tahu ada sesuatu,"Ngga ada bang. Palingan cuma balas-balasin mention."

"Kita maling."

~^~

"Bang, kita panjat nih?" kata Lana, dengan nada cemas.

"Ngga, kita pencet bel, bilang asalamualaikum," kata Amir Kote.

"Itu bertamu, bang."

"Ya lah dodol. Kita panjat." gusar Amir Kote,"Ini anak lu dapat dari mana sih?" kata Amir Kote ke One Budeg.

"Itu teman bang." jelas One Budeg, singkat.

"Grhhhh," Amir Kote geram."MAK - SUD - NYA.. Okelah, kita masuk."

~^~

"Ngga lah bang. Udah pensiun," kata One Budeg.

Amir Kote memainkan rokoknya, dipelintirnya, lalu dijatuhkan dan diinjak. Amir Kote terdiam sejenak, khasnya. Ia mulai menatap sesuatu, bibirnya bergoyang, ada kalimat yang tertahan diujung lidahnya.

"Ini yang terakhir." jelas Amir Kote, menatap lekat-lekat.

"Bukan masalah terakhirnya, Bang." One menggaruk kepalanya,"Aku malu sama istri. Gara-gara aku, tetangga jadi ngegosipin rumah tangga. Imbasnya ke istri dan anak."

"One, hidup itu cuma sekali. Mati juga sekali."

"Maksudnya Bang?" tanya One Budeg.

"Di jaman sekarang ini, kita harus bertahan hidup. Maling itu hal lumrah. Kita ambil cuma sedikit, koruptor malah lebih banyak dari kita," jelas Amir Kote dengan nada membujuk.

One Budeg menimbang-nimbang. Diambilnya rokok yang sisa satu batang, Amir Kote membakarkannya. One Budeg mengisap dalam, upaya agar nyala api menembus tembakau.

"Bang, istriku.."

"Istrimu? Kamu kayak gini juga buat dia." potong Amir Kote.

One Budeg tertegun, dengan rokok yang menempel dibibirnya. Belum diisap. Dengan irama ombak lautan memecah karang, angin menerpa wajah kedua gembel itu. One Budeg dengan satu tarikan napas, mengisap penuh rokoknya. Sampai bara api menyentuh, bagian karet tempat mengisap. Asap dihembuskan One Budeg, puntung rokok di lemparnya ke laut. Amir Kote mengibaskan tangannya diudara, memukul asap. Pemandangan yang cantik itu, tidak boleh terhalang asap kotor.

"Kapan bang?" tanya One Budeg.

"Malam ini."

~^~

Perempuan itu menangis dihadapan si suami. Air matanya keluar, meski hanya sebutir dua butir. Entah karena berpura-pura, atau terlalu sering menangis. Suaminya masih sibuk dengan hape-nya. Dengan menekan tombol power, layar hape mati. Si suami menatap si istri.

"Aku malu, Mas. Tetangga pada ribut tentang kita. Kasihan Ratih," kata si Perempuan dengan tersendat-sendat akibat tangisan pilunya.

"Aku tahu. Ini juga buat kita. Kita makan pake ini. Urusan kita biarlah urusan kita."

"Mas cari uang halal saja. Atau aku saja yang kerja, Mas." tersedu-sedu si Istri.

"Oh, jadi kamu meremehkan suamimu ini?" tanya si Suami dengan nada tinggi.

"Tidak mas, saya cuma malu. Dan apakah tidak sebaiknya Mas jangan berteman dengan si pemabuk tua itu."

"Siapa? Amir Kote?"

~^~

Amir Kote membuka secarik kertas. Kertas itu lumayan kusam, hampir sobek. Pelan-pelan dibukanya, secara halus. Amir Kote memperlihatkan isi kertas itu. Sebuah denah rumah, lengkap dengan penjelasannya. Amir Kote berbalik ke belakang, mengambil batu, meletakkan kertas itu di tanah, lalu menindisnya batu agar tidak tertiup angin. Kayu penusuk siomay jadi penunjuk arah Amir Kote. Sekarang, mereka berdua seperti FBI yang telah menyidik sesuatu, tapi dalam versi minim budget.

"Besar banget bang." One Budeg tersentak,"Bisanya juga ngga pake denah, ini macam Fast Furious aja."

"Ini rumah artis, selebriti. Kita berhasil, kita kaya. Ngga perlu maling lagi. Uang bisa dipake 24 turunan." jelas Amit Kote, menggebu-gebu.

"Wah, bener bang?" tanya One Budeg.

"Itu kiasan aja sih. Eits, tapi jangan salah. Dalamnya emang banyak."

"Memang artis siapa sih, Bang?" tanya One Budeg.

"Bayu Ping Ping."

 ~^~

Pukul 8 pagi, Amir Kote berjalan melewati gang yang sempit. Karena mabuk semalam, kepalanya masih terasa oleng. Ia berjalan agak sempoyongan. Menabrak sisi kiri dan kanan gang. Orang-orang yang melihat sudah tahu dan mengerti. Tidak ada yang berani melarang, sebab, Amir Kote adalah bapak dari segala bapak. Maksudnya, Amir Kote sangat di hormati. Walaupun pembawaannya bobrok, gelandangan, dan cap maling sudah disandangnya, di kompleksnya, ia menjelma bak pahlawan. Anak-anak kompleks sangat akrab dengan Amir Kote. Jika hasil maling lebih untuk membeli minuman, ia akan membagi-bagikan uang saku ke anak-anak. Biasanya, pada hari tahun baru, ia membagikan petasan dan mercun untuk anak-anak bermain. Itulah yang membuat dia menjadi akrab dengan anak-anak.

Amir Kote mampir di warung Mama Ririn, begitulah orang-orang memanggilnya. Warung itu sudah berdiri sejak Amir Kote SMA. Sekarang, Mama Ririn ini sudah lanjut usia. Punya satu cucu, dari anak yang bernama Ririn.

"Eh, duduk, Mir." sapa Mama Ririn, menarik kursi.

"Iya, bu." balas Amir Kote, sembari duduk.

Beberapa pembeli mengantri dari luar. Lewat celah-celah yang dibuat macam penjual karcil, mereka berdulu-duluan menyetor uang. Ibu-ibu yang menyerobot satu sama lain. Mama Ririn tak punya daya apa-apa, hanya bisa menyarankan untuk mengantri dan diam. Selain ibu-ibu, anak sekolah dasar yang berada di daerah dekat warung Mama Ririn juga ikut mengantri. Amir Kote hanya diam, menunggu giliran. Perutnya sudah berbunyi sejak ia melewati gang tadi pagi, kepalanya masih sedikit pusing. Ia mengambil gelas plastik, lalu mengambil air di dispenser sebelahnya.

Ibu-ibu pulang satu persatu, kebanyakan dari mereka membungkus. Hanya para lelaki dan beberapa orang yang makan di tempat. Bukan karena tempatnya kotor, tapi sempit. Anak sekolah dasar kembali ke kelas setelah mendengar bel masuk tanpa mendapatkan apa-apa. Mama Ririn sebenarnya adil dalam berjualan. Dia selalu melihat siapa duluan datang, dia akan dapat. Tapi kadang, dibeberapa momen, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu-ibu dengan mulut yang luar biasa membuat Mama Ririn bergerak lebih cepat dari yang seharusnya. Tidak adil pada yang biasanya.

Pembeli sudah sepi, giliran Amir Kote. Dengan masih menonton Mama Ririn membungkus dan menghidangkan nasi kuning. Mama Ririn mengambil piring, lalu menghidangkan nasi kuning untuk Amir Kote. Mama Ririn sudah hapal pesanan Amir Kote. Nasi seharga sepuluh ribu rupiah, dengan lauk ikan, sayur, mie, bakwan, telur dan kerupuk dan lombok di bagian pinggir.

"Ini, Mir." Mama Ririn mempersilahkan Amir Kote.

Amir Kote menyambar piring ditangan Mama Ririn. Segera ia melahap nasi kuning itu. Warung Mama Ririn adalah warung favorit Amir Kote sedari dulu. Selain karena sudah akrab, harganya juga murah, dan sangat ramah kepada Amir Kote.

Cuma beberapa menit, nasi dipiring telah habis. Ia mengambil gelasnya kembali, mengisi, dan meneguk. Sebelum keluar, ia duduk rehat sejenak. Menurunkan nasi diperutnya. Seorang dari balik pintu datang dengan langkah yang berat. Amir Kote melirik, dan ekspresinya berubah sapa. Anton Manga, namanya. Seorang teman Amir Kote dalam hal kriminal. Mereka saling berbagi informasi, tapi tidak pernah berburu bersama.

"Eh, Ton.." sapa Amir Kote, menarik bangku disampingnya.

Anton Manga duduk, dan membalas sapa Amir Kote.

"Biasa," kata Anton Manga kepada Mama Ririn.

Mereka saling bercakap. Topik pertama adalah saling tanya kabar, lalu berlanjut ke kabar orang-orang terdekat, lalu beralih ke topik utama: target informasi. Setelah diceritakannya Amir Kote telah membakar rumah seorang konglomerat, Anton Manga takjub. Itu adalah peraturan keras dalam institusi maling. Anton Manga juga tahu kalo Amir Kote sudah kehabisan uang. Uang terakhirnya, untuk dua botol minuman keras yang dibelinya tadi malam.

"Mir, ada lubang baru." kata Anton Manga pelan.

Mama Ririn menyodorkan nasi kuning ke Anton Manga dan masuk ke dalam rumahnya.

"Hmm, tikusnya gimana?" tanya Amir Kote.

"Lumayan, buat seminggu hari bisalah."

"Ada yang besar ngga, rencananya ini akan jadi rumah terakhir?" tanya Amir Kote, membasuh keringat didahi.

"Wah, berhenti? Gawat, nih. Rantai ekonomi jadi ngga seimbang, Mir." kata Anton Manga.

"Maksudnya bukan berhenti maling, tapi ini rumah terakhir. Bisa jadi bukan di rumah." jelasnya lagi.

Anton Manga mengunyah nasi dimulutnya. Lalu memikir-mikir, matanya mengarah ke atap seng. Amir Kote menunggu jawaban.

"Ada."

"Dimana? Siapa?" tanya Amir Kote antusias.

"Tapi susah. Rumah selebriti. Pasti taulah, gimana harta selebriti." kata Anton Manga.

"Dimana? Siapa?"

"Ini rumah selebriti, Bayu Ping Ping. Artis dangdut beken itu."Anton Manga menyimpan piringnya.

Anton Manga mengambil kertas, lalu menulis sesuatu.

"Ini alamatnya, ini denah rumahnya. Sebenarnya itu jatah tahun baru gue. Tapi tak apalah, khusus teman." Anton Manga menyodorkan dua carik kertas.

Amir Kote melihat baik-baik kedua kertas itu sambil mendengarkan ocehan Anton Manga dengan sistem penjagaan di rumah itu. Amir Kote hanya menangkap satu kata terakhir, itupun sekilas: hati-hati, Mir. Jalan dulu.

~^~

"Yang artis dangdut itu yah, Bang? Ah pasti seru." kata One Budeg.

Amir Kote menyudahi antusias berlebihan One Budeg dengan menghantam kepalanya. Hal sebesari itu adalah rahasia besar. Jika berhasil, itu akan jadi maha karya Amir Kote sepanjang karir maling. Jadi, diperlihatkannya secarik kertas berupa denah rumah.

"Pelajari itu." Amir Kote menyodorkan denah itu.

One Budeg memperhatikan dengan seksama. Lalu mengambil hapenya, membuka kamera, dan mem-foto. Amir Kote hanya memperhatikan. Dikembalikannya denah itu kepada Amir Kote. One Budeg melihat hasil jepretannya. Sambil memperhatikan baik-baik. Ada satu titik dimana One Budeg terlihat bingung.

"Bang, ini apa?" One Budeg memperlihatkan salah satu titik.

Amir Kote melihat, tapi hape masih ditangan One Budeg. Amir Kote menarik hape, tapi One Budeg bersikeras agar cuma melihat tanpa mengambilnya. Amir kote geram. Di ambilnya kertas denah dikantongnya, lalu melihat.

"Ohiya, yah. Ini ruang tempat nyimpan uang kayaknya," kata Amir Kote dengan nada keraguan.

"Bang, alat biasa ada gudang Hendra," kata One Budeg.

"Kau ambil itu sebentar. Kita butuh satu orang lagi. Nanti ku sewa mobil pikap si Hendra."

"Siapa Bang?" tanya One Budeg.

"Coba kau cari. Kau suka main gram-gram itu kan. Pasti punya banyak teman." gumam Amir Kote.

~^~

Seorang pemuda berjalan pergi ke warnet dekat perempatan jalan. Mukanya membawa hawa tidak menyenangkan. Sepertinya ada sesuatu yang baru saja terjadi. Ia melangkah masuk, menyapa teman yang tengah duduk di jok motor. Lalu mencari meja kosong. Dari ujung pukul ujung, tidak ada meja yang kosong. Bahkan, meja yang sering tidak dipakai karena beberapa bagian rusak, juga dipakai. Tidak heran, hari Sabtu, jam 3 sore, waktu tepat untuk anak sekolah mengisi warnet.

"Mas David, ada yang kosong?" tanya pemuda itu kepada penjaga warnet.

Si penjaga warnet menoleh,"Ku tengok kau sudah mondar-mandir. Artinya kau sudah tau itu."

"Maksudnya? Ada yang sudah mau habis waktunya?" tanya pemuda itu lagi.

"Ada satu."

"Sisa berapa?"

"Satu jam."

~^~

Dengan arahan Amir Kote, One Budeg segera mencari orang ketiga yang akan membantu jalannya aksi mereka. Sambil menaiki motor Supra Ganas-nya, begitu orang-orang menyebutnya, ia mengingat-ngingat nama teman yang akan di ajaknya. Lalu secara tiba-tiba nama seorang teman muncul. Tanpa berpikir, One Budeg menancap gas. Dengan tarikan yang halus, bunyi yang meraung-raung, sepeda motor itu menembus jalan.

Supra Ganas berhenti di depan warnet. Ia melihat dari luar sudah banyak sendal-sendal berhamburan. Ia memarkirkan motor, menaruh helm, dan berjalan masuk. Dari teras, sudah terdengar bunyi permainan dan suara-suara ajaib dari mulut seorang bocah pantat biru. One Budeg masuk, menengok sebelah kiri, melihat si penjaga warnet bersama seorang pemuda.

"Eh, David.." sapa One Budeg, lalu melangkah masuk.

"One, darimana saja kau, baru muncul?" tanya si penjaga warnet.

"Dari rumah, sibuk ngurus istri."

"Macam gaya-gayaan kau. Point Blank kau itu sudah lama kau tak main. Banyak event akhir-akhir ini," kata penjaga warnet, sembari menunjuk-nunjuk layar komputernya.

"Ini juga sibuk. Sekarang lagi jamannya Mobile Legend bro." seru One Budeg.

"Kalo aku main gitu-gituan, anak-anak ini ikutan. Ngga laku lah warnet ini," katanya dengan ketawa yang di paksa.

One Budeg melihat seorang di samping penjaga warnet. Ia kenal orang itu. Maulana, anak yang pernah ia lawan pas masih bermain Point Blank. Skornya memang beda tipis, tapi kalah tetap saja kalah.

"Maulana?" sapanya.

"Bang One.." balas pemuda itu, sambil memikir-mikirkan pernah ketemu dimana.

"Di luar yuk." One Budeg mengajak Maulana ngobrol di luar.

One Budeg memakai sendal, begitu juga Maulana. Mereka berjalan di depan motor One Budeg. Lalu One Budeg menaiki motornya, memakai helm. Dan menginjak starter kaki. Supra Ganas siap menyapu jalan.

"Naik." seru One Budeg.

"Naik?" tanya Maulana, masih ragu.

Tanpa menjawab, Maulana akhirnya naik. Supra Ganas berjalan dengan jumawa diatas kendali One Budeg.

"Gini Lana, aku ada projek. Dan kru kami butuh tambahan orang," kata One Budeg, menjelaskan.

"Gimana? Gimana Bang?"

"Kami mau maling."

 ~^~

"Bang, ini, udah ada," kata One Budeg saat tiba di pekarangan Hendra.

Maulana berjalan di belakang One Budeg. Maulana memperhatikan sekitarnya. Sangat asing untuk dirinya. Di lihatnya One Budeg tengah berbisik bersama bos yang akan memimpin rencana pencurian malam itu.

"Anak muda, sini kau.." panggil Amir Kote.

Maulana berjalan mendekat, sambil menyapa dan memberikan salam. Amir Kote mengambil tangannya, sambil menyebutkan namanya.

"Kau sudah pernah lakukan hal semacam ini?" tanya Amir Kote.

"Belum, Bang."

"Kau makan dulu ini pisang goreng. Baru kau susun barang-barang itu naik."

Maulana mengangguk.

One Budeg dan Maulana menghabiskan sepiring pisang goreng dingin itu. Lalu memasukkan barang-barang di belakang mobil pick up. Barang-barangnya berupa tas kosong, linggis, senter, dan topi tambang. Maulana akhirnya naik ke mobil setelah semua selesai. Senja mulai terlihat, angin mulai menyeruak, dingin mulai menusuk, dan malam itu, sebuah misi besar akan segera dilakukan.

 ~^~

Amir Kote menarik rem tangan dan memarkirkan motor beberapa meter dari rumah Bayu Ping Ping. Sebelum turun, Amir Kote memberi instruksi. One Budeg dan Maulana menyimak dengan baik agar rencana ini berjalan sesuai rencana.Amir Kote memberi instruksi agar One Budeg, sebagai orang yang paham teknologi bisa meraba apa saja yang tidak bisa mereka sentuh.

"Tugas saya Bang?" tanya Maulana, saat Amir Kote hendak turun.


"Kau jaga mobil, nanti ada apa-apa."


Maulana turun, menyusul Amir Kote yang sedang mengambil senter dan topi tambang.

"Bang, saya mau ikut masuk."

Amir Kote menengok kepada Maulana, One Budeg yang sudah ikut turun hanya bisa memberi ekspresi terserah-abang-lah.

Amir Kote mengambil tas kosong dan melempar kepada Maulana.

 ~^~

"Upahnya besar. Asal kau ikut terus," kata One Budeg.

Maulana diam.

"Kau bisa beli playstation, beli komputer, pasang wifi.." lanjut One Budeg.

Maulana masih terdiam.

"Kau bisa lanjut kuliah.."

"Oke Bang, ayo jalan." potong Maulana.

 ~^~

Amir Kote memimpin barisan. Mereka memanjat pagar bagian samping yang setinggi hampir 3 meter. Amir Kote yang sudah terbiasa melakukan hal seperti ini, juga harus dibantu karena faktor usia yang tak lagi muda. One Budeg dengan sekali ancang-ancang, langsung memegang ujung tembok dan naik. Di atas, One Budeg menjulurkan tangan, Maulana menyambar dan naik.

Mereka berjalan pelan ke arah rumah. Halamannya cukup luas, kira-kira satu lapangan futsal. Sampai di teras rumah saja, mereka sudah ngos-ngosan.

One Budeg melihat-lihat sekitar, matanya liar mencari. Maulana ikut mencari, mesti tidak tahu apa yang ia cari. Lalu, ditariknya kepala Maulana.

"Kau lihat sana itu.." tunjuk One Budeg.

Maulana mengangguk.

"Kalau kita kena, bisa di penjara kita." jelas One Budeg.

Amir Kote langsung berdiri, memanjat tiang. One Budeg dan Maulana yang melihat, membantu dengan mendorong pantatnya.

"Ayo Bang, dikit lagi," kata Maulana.

"Dorong lebih kuat," seru Amir Kote.

One Budeg dan Maulana mendorong dengan tenaga dua kali lipat dari sebelumnya.

Pyutttt...

"Abang kentut yah?" tanya One Budeg, dengan ekspresi mau muntah.

"Makanya, kau jangan sensitif sama lobangnya."

Di raihnya cctv itu oleh tangan kanan Amir Kote dan dengan satu kali hantam, cctv itu rusak berantakan.

Mereka berjalan ke halaman belakang, masuk lewat lantai dua yang mereka panjati. Dengan hati-hati, mereka sampai ke kamar dengan jendela kaca yang terbuka. Dari luar terlihat terang, dalamnya dimatikan semua. Tidak mau mengundang kecurigaan, Amir Kote hanya menyalakan senter.

"Kau dobrak pintu itu, tulang-tulangku sudah tak mampu." gumam Amir Kote.

One Budeg menaruh hape di kantongnya, dan mulai mengambil ancang-ancang.

Dobrakan pertama,
gagal.

Dobrakan kedua,
gagal.

Maulana berjalan mendekati pintu, menarik gagang dari dalam.

Pintu terbuka.

Amir Kote berjalan di bagian depan. One Budeg membaca arah denah. Dan Maulana mengikuti dari belakang. Mereka menaiki tangga. Berjalan ke arah lantai tiga. Suasana begitu mencekam dan gelap. Hanya mereka bertiga di temani bunyi cicak dan detak jam.

Mereka berjalan menuju ujung lorong. Terdapat satu ruangan dengan pintu yang beda sendiri. One Budeg melihat denah, sesuai dengan simbol brankas itu. Mereka masuk ke dalam. Tercengang melihat hanya sebuah kamar mandi. Kamar mandi yang sangat megah. Ada karpet dan pendingin ruangan.

"Tidur disini juga mau saya," kata Maulana, kagum.

Mereka masih bingung, kaget dengan apa yang dilihatnya. Denah berkata bahwa mereka sudah sampai di tujuan, tapi mereka hanya sampai di tempat pembuangan kotoran. Maulana tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Meski tidak terlalu kebelet kencing, ia mencoba kencing. One Budeg juga ikut-ikutan. Amir Kote melangkah menuju keran, mencuci muka. Air meluncur dari keran, Amir Kote membuka topi tambangnya dan membasuh muka dan rambutnya.

"Ahaa.." sentak One Budeg.

"Apa yang kau tahu?" tanya Amir Kote, masih membasuh muka.

"Bang, kau lihat cermin depanmu itu?" tanya One Budeg.

Amir Kote mengangguk.

"Jangan-jangan, itu cermin dua arah. Jadi, ada ruangan lain di balik WC ini." jelas One Budeg.

Maulana tersenyum bangga.

"Kita pecahkan sekarang," kata One Budeg.

"Kau selesaikan dulu lah kencing kau."

 ~^~

Linggis yang ada di dalam tas dikeluarkan. One Budeg mengambil ancang-ancang. Dan dengan satu kali pukulan, kaca itu pecah. Mereka terperangah. Benar, satu ruangan kecil ukuran 3x3 meter berada di balik cermin. Mereka melangkah naik. Sebuah brankas warna coklat terpampang depan mereka.

"Bang, ini pake kode kan?" tanya Maulana.

"Pasti."

Mereka terdiam sejenak. Memikirkan delapan digit angka yang akan menjadi kode brankas itu. One Budeg mulai berpikir, begitu juga dengan yang lain.

"Coba cari-cari sekitar, siapa tahu kodenya tersembunyi," kata Amir Kote.

Maulana mencari, One Budeg hanya berpikir.

Lalu tiada angin, tiada hujan, sebersik cahaya menimpa kepala One Budeg. Ia mengambil hapenya, lalu mencari biodata Bayu Ping Ping. Melihat tanggal lahirnya, dan mencoba memasukkan ke kode brankas. One Budeg mencocokkan dengan perlahan. Hingga pada angka terakhir, mereka saling tatap. Lalu kunci brankas di geser, klik. Brankas terbuka.

Dalam brankas terdapat sebuah tas kecil dengan gembok. Belum sempat mereka membuka, suara klakson mobil terdengar dari halaman depan. Mereka terbirit-birit keluar dengan tas kecil itu. Turun dari lantai tiga, ke lantai dua. Kembali melewati tembok-tembok, dan turun mengendap-endap sampai di samping pagar, lalu keluar dengan perlahan. Semua barang di masukkan, mobil pick up berjalan menjauh.

 ~^~

"Pak, Pak, tunggu, saya lupa hape saya," kata seorang pemuda kepada sopirnya.

"Tapi, Pak, konsernya setengah jam lagi," kata pak Sopir.

"Kembali Pak, hape saya lebih penting."

Si Sopir berputar arah. Kembali kerumah.

 ~^~

"Kita kaya kita kaya," kata Maulana senang.

"Kaya, kita tak tahu apa isi tas ini," kata Amir Kote.

"Yang penting, pasti berharga lah bang. Ini aja di brankas." sambung One Budeg.

 ~^~

"Pak, rumah dibobol," kata si Sopir.

"Hah?" pemuda itu berlari naik ke lantai tiga, menuju ujung ruangan. Mendapati cermin sudah pecah, brankas sudah terbuka.

Pemuda itu menangis. Si Sopir datang dengan tergopoh-gopoh. Lalu menyaksikan tuannya sedang menangis.

"Pak, Bayu, sudahlah. Tak apa.."

Bayu Ping Ping itu masih menangis.

"Isi brankas saya hilang, Pak." gumam Bayu Ping Ping, masih tersedu-sedu.

"Uang bapak banyak, rumah bapak besar. Masa cuma isi brankas menangis sih." bujuk si Sopir.

"Itu album saya yang ditolak, Pak. Di dalam brankas itu."

- arsip 2017
Related Posts

Related Posts

2 komentar

  1. Hahahahahah aku baca sampe abis,dan bener2 penasaraaaan Ama isi yg mereka ambil dr brankas, taunyaaaaa wkwkwkwkwk.

    Lgs ngebayangin muka Amir Kote dan lain2 kalo tau itu apaan mas :D.

    BalasHapus
  2. Hanya bisa menghela nafas sambil menahan ketawa (((:

    Kerennnn, Mas Rahul! Suka sekali dengan gaya menulisnya. Aku otw baca yang lainnya!

    BalasHapus