zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Lelaki yang Berlari dari Kenangan

Lelaki yang Berlari dari Kenangan

Minggu pagi alarm hape Syarif berbunyi. Syarif yang merasakan lantunan lagu Di Balik Hari Esok milik Pee Wee Gaskins segera mengumpulkan nyawa. Dia menarik selimut karena dingin, lalu menutup kepalanya. Seandainya itu hari sekolah, mungkin dia akan melanjutkan tidur. Tapi, ia tahu hari itu hari Minggu, jadi setelah nyawa terkumpul, ia bergegas membasuh muka dengan air lalu membuat air panas.

Jadwal Syarif di hari Minggu ini adalah jogging. Pukul 05:42 saat dia melihat jam dinding sembari menyesap susu dan sepotong roti tawar. Dia keluar ke teras, mengambil sepatu olahraga warna orange yang selalu ia pakai. Karena memang cuma satu.

Syarif melambatkan ikatan, karena berpikir ini terlalu pagi untuk jogging. Lagipula, lapangan berada cuma beberapa puluh meter dari rumahnya. Dia mengeluarkan hape, lalu mengecek galeri. Tidak seperti biasanya, Syarif akhir-akhir ini sering mengecek galeri. Galeri yang selalu berakhir dengan kesedihan yang dipukul telak oleh kenangan.

Dia tahu, setiap jari jemari yang mengarah ke galeri selalu berakhir luka. Tapi, rasa itu selalu saja random. Kadang dia merasa tangannya bergerak sendiri. Dia selalu berpikir, semua di dunia ini penuh konspirasi. Termasuk bagaimana ia dicurangi untuk selalu merasa sedih.

Waktu yang salah pagi itu untuk membuka galeri. Akhirnya, album '2014 moments' terpampang di layar ponsel Syarif. Dia men-scrool dari foto yang paling bawah. Foto pertama, foto candid seorang perempuan dengan rambut sebahu dan dilengkapi poni yang manis. Memakai bandol pink dan cantik. Syarif tersenyum tipis. Perasaan itu kembali lagi.

Foto kedua, fotonya bersama perempuan itu lagi. Dengan gaya melipat kedua tangan dan sedikit menyandarkan kepala ke bahu perempuan itu. Mata Syarif terlihat berair. Entah karena embun atau air mata yang belum jatuh.

Syarif akhirnya sadar, semakin lama ia melihat foto itu. Terjebak di album itu, dia akan semakin hancur. Jatuh ke lubang yang paling dalam. Berakhir dengan sia-sia karena semua orang itu egois. Atau mungkin begitulah harusnya.

Dia mengambil earphone, lalu mencolok ke lubang hape dan mulai memutar lagu random. Lagu dimainkan. Tell Me If You Wanna Go Home yang dinyanyikan oleh Keira Knightley.

Ingatan pertama yang dia ingat. Bukan karena lagu itu, tapi karena foto-foto di galeri itu adalah ucapan perempuan yang ada di dalam foto itu. Dia ingat, ketika perempuan itu dengan yakin bilang ke Syarif,"Kamu akan dapat yang lebik dari saya di SMA."

Sekarang, Syarif telah duduk di kelas 3 SMA. Dan waktu SMA akan berakhir dalam hitungan bulan. Sampai sekarang, dia masih menunggu kapan waktu itu tiba. Perempuan yang ada di foto itu telah membuat perasaan Syarif hancur. Dia tidak lagi bisa jatuh cinta sejak 4 kali hatinya dipatahkan. Syarif masih menunggu waktu-waktu dimana seseorang itu datang.

Syarif sampai di lapangan ketika lagu pertama mencapai dua kali reff. Dia melihat ada dua orang telah berlari. Bapak-bapak dengan pakaian rumah dan tidak memakai alas kaki. Ibu-ibu dengan jaket dan celana legging seperti ibu-ibu pada umumnya.

Lapangan itu berbentuk oval. Di tengahnya terdapat lapangan sepak bola yang mempunyai tiang gawang tidak berjaring. Rumput lapangan terasa basah karena embun. Dingin mulai menusuk, menembus kaos Syarif. Dia menginjakkan kaki di pinggir lapangan, tempat orang-orang berlari. Dia melakukan pemanasan ringan sebelum berlari.

Lagu kedua terputar. In The End milik Linkin Park. Syarif sangat suka lagu-lagu dari Linkin Park sejak SD. Tapi, yang Syarif tidak tahu adalah nama-nama personel Linkin Park. Setelah vokalisnya meninggal dengan kabar bunuh diri, dia baru tahu dan merasa gagal sebagai orang yang menyukai lagu dari band yang dia suka.

Lagu yang bagus untuk mengawali lari, pikirnya. Lalu, Syarif mulai berlari.

Syarif berlari kecil, menikmati irama lagu. Lantunan musik memacu adrenalinnya berlari. Syarif mempercepat larinya. Dia sejajar dengan bapak-bapak tanpa alas kaki, dan mulai bergerak maju perlahan menjauh. Lalu di pembelokan selanjutnya, dia melambung ibu-ibu bercelana legging.

Awal dia berlari, reff baru selesai. Dia tahu, ini lumayan cepat untuk ukuran fisiknya. Dia mulai merasa bahwa kalau 1) lari-lari ini terlalu cepat dan membuatnya capek. Atau 2) fisiknya yang cemen, atau 3.) musiknya berkonspirasi dengan hatinya untuk membuat ia terus-terus berada dalam satu lubang kesedihan.

Syarif berlari kecil merentangkan tangan. Matahari pagi mulai muncul seiring orang-orang berdatangan. Tempat berlari yang tadinya kosong mulai terisi. Syarif belum merasa dirinya capek untuk beristirahat. Dia masih terus berlari, memutari lapangan, diiringi lagu demi lagu. Orang demi orang yang dia sejajari lalu lewati.

Setiap orang yang datang, selalu diperhatikan Syarif. Tidak ada satu perempuan-pun yang nyantol di hatinya. Walau dia juga sadar diri, kalaupun ada, orang itu belum tentu mau dengannya.

Betis mulai terasa capek ketika Syarif memutuskan untuk menepi ke rerumputan. Dia melihat jam tangan, pukul 06:20. Syarif berencana akan pulang jam diatas jam 7. Jadi, dia menepi ke tempat orang-orang bergelantungan. Dia mengambil tempat duduk kosong di pojok. Di sampingnya, dia melihat seorang laki-laki yang dia taksir kira-kira baru lulus dari SMA.

Laki-laki itu dengan gigih berlatih. Syarif memperhatikan laki-laki itu yang setelah sit up, lalu bergelantungan sejajar dengan dada. Lalu dengan gaya yang lain, dan di lanjutkan dengan push up. Di sebelahnya, ada seorang bapak-bapak, memakai jaket, dengan celana training. Kelihatan dia sudah selesai berlari dari keringat yang ada di dahinya dan botol minuman yang dia pegang.

"Mau tes kau?" Bapak itu bertanya ke laki-laki yang dari tadi latihan.

Dia berbalik,"Iya om." dengan sedikit menyeringai.

"Fisikmu itu harus kuat dan konsisten." kata Bapak itu.

"Hehehe, iya om.."

"Kamu mau tes apa memang?" tanya Bapak itu lagi.

Laki-laki itu berdiri, membenarkan posisi celana,"Tes tentara om."

"Oh.." lalu Bapak itu melihat Syarif dengan tatapan lah-kamu-siapa,"Kalo kamu?"

Syarif melepas earphone ditelinga kiri, lalu menjawab,"Tidak om, cuma lari biasa."

"Oh.."

Lalu Syarif kembali berlari untuk menghindari momen canggung itu. Ditengah-tengah dia berlari, Syarif melihat seorang perempuan berjaket hijau memarkirkan motor. Dia mempercepat larinya agar saat perempuan itu berlari, dia bisa, setidaknya, berada satu deret dengannya. Syarif menghiraukan napasnya yang mulai tidak teratur. Dia berlari sambil melihat perempuan itu mengatur earphone. Sesuai rencana, dia berlari tepat di belakang perempuan itu.

Syarif mengatur ritme berlarinya agar tidak mendahului perempuan itu. Dia sesekali menggerutu karena ritme lari perempuan itu yang lambat dan selalu berhenti. Setelah satu putaran dia mengikuti, akhirnya Syarif memutuskan untuk berlari dengan ritmenya. Syarif melewati perempuan itu.

Lagu Pelangi milik Hivi membuatnya ingin berbalik belakang. Melihat wajah perempuan itu. Seperti dalam adegan film-film, kepala Syarif saat berbalik arah di iringi lagu bergerak slowmotion. Dia meraba-raba wajah tak asing itu. Dia merasa kenal, lalu dia menangkap memori dalam kepalanya. Kila, adik kelasnya waktu SMP.

Kila tidak melihat Syarif saat Syarif memperhatikannya. Syarif yang tahu itu menambah kecepatan larinya, dia tidak mau dibilang sombong karena tidak menegur duluan. Tapi, dia juga ragu untuk menegur duluan. Amannya, dia menunggu untuk ditegur duluan.

Lima kali berputar bersama Kila, tidak ada tegur sapa sedikit pun. Syarif sudah capek, betisnya mulai berdenyut seakan minta istirahat. Teguran yang dia tunggu pupus ketika Kila berhenti berlari. Syarif juga berhenti, kembali ke tempat beristirahat tadi sambil menatap kepergian Kila.

Kila, bukan siapa-siapa bagi Syarif. Dia hanya ingin membuktikan diri kalau dia tidak kagok dengan perempuan setelah insiden bersama perempuan di galeri hapenya. Dia salah, efek dari insiden 2 tahun lalu itu masih berdampak sampai sekarang. Bahkan, perempuan yang dia kenal saja masih ragu untuk di sapanya.

Syarif akhirnya pulang. Berjalan dengan earphone yang masih menggantung ditelinganya. Lagu telah berhenti, dia mematikan tapi earphone masih terpasang ditelinganya. Dia berjalan, memikirkan pelarian yang dia lakukan tadi sangat berguna untuk raganya, tapi tidak hatinya. Setelah mengingat lagi perkataan perempuan di galeri itu,"Kamu akan dapat yang lebik dari saya di SMA." Syarif merasa sedang dikutuk. Betisnya mulai menolak untuk berjalan, tapi dia berlari. Dia melepas sepatu, membuka pintu kamar, mengambil selimut yang sudah terlipat, lalu kembali melanjutkan tidur.

- Arsip 2017
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar