zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Hadiah

Hadiah

Sore menuju malam dari dalam kamar Arsya, suasana tidak begitu berubah. Arsya masih merangkul tubuh pacarnya, entahlah, karena ia anggap begitu. Wajahnya dingin dengan tatapan kosong mirip psikopat. Entahlah, karena itulah yang sering dikatakan orang-orang. Arsya memeluk pacarnya dengan erat, seakan-akan itu adalah pelukan perpisahan. Di tangan kirinya dia memegang tisu yang sudah basah akibat ingus. Setelah capek, ia lalu berbaring sejenak. Lalu memeluk guling, dengan itu, pandangannya mengarah ke hape. Ia lalu mengambil hape itu dan dengan satu hentakan ia membantingnya ke lantai. Pecah. Seperti sebelumnya.

Air mata mulai keluar lagi, ia kembali menangis. Tangisan tidak keras, ia hanya meringis seperti orang kesakitan. Posisinya sekarang adalah kaki di lekuk kemudian dirangkul, sekarang, ia mirip pecandu. Ia seperti orang yang tidak pantas hidup. Segala apa yang membuat orang bahagia seakan-akan di rampas darinya. Tangisnya kembali berubah menjadi senyum, lalu ketawa. Hape yang sudah pecah dibagian layar, ia ambil dan taruh kembali. Sejenak ia melihat foto seseorang. Temannya, namanya, Nisa.

Sebulan sebelum kelulusannya di SMA, ia banyak menghabiskan waktu bersama orang bernama Nisa. Nisa adalah cewek sekelasnya. Parasnya beda dari yang lain, bagi Arsya. Menurut Arsya, Dibandingkan dengan kopi, Nisa jauh lebih bikin mata melek. Nisa duduk dibagian bangku kedua, tepat di belakang Arsya. Jadi, dari depan, Arsya selalu mencuri pandang. Meski hanya berpura-pura meminjam tipe-x atau catatan. Padahal ia hanya ingin berbalik melihat Nisa. Tatkala Arsya berbalik, ia selalu berbagi senyum ke Arsya. Itulah yang membuat Arsya geer.

Nisa adalah alasan Arsya untuk datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Datang lebih rajin kesekolah. Selain daripada itu, malam dimana Arsya memegang hape Blackberry-nya, ia menimbang-nimbang, topik pembuka apa yang bagus untuk memulai percakapan. Kemarin ia sudah mencoba menanyakan pr, lalu di iringi obrolan tanya-jawab pribadi. Malam itu, Arsya, tanpa topik pembuka, ia mengawali semua dengan PING!!! tiga kali. Seperti biasa, sambil menunggu balasan, Arsya meredupkan layar hapenya lalu menaruhnya sambil tengkurap. Tidak lama setelah itu, balasan pun muncul, Arsya membuka, isinya,”Iyaa”

Arsya kemudian lompat sambil menggigit bantal guling. Lalu ia sadar hampir gila.

Obrolan disambung dengan menanyakan pekerjaan apa yang sedang ia lakukan, lalu menuju pertanyaan sudah makan apa belum. Pertanyaan-pertanyaan itu sangat basi. Tapi bagi Arsya, ngga ada cara lain. Pertanyaan yang sama, ia tanyakan setiap malam, kecuali satu pertanyaan malam itu. Arsya mengumpulkan keberanian mengetik. Ia memulai dengan perlahan, lalu ia melihat layar hape dan menekan send.

Ia menutup kepala memakai bantal.

Bunyi balasan menyegerakan Arsya meraih hapenya. Ia membuka, membaca perlahan. Lalu dengan senyum menyeringai sangat-sangat menyeringai seketika berubah menjadi pupus. Ia mengetik kembali. Lalu tidur.

Beberapa minggu setelah itu, Nisa berulang tahun. Arsya akhirnya memutuskan meng-hadiahkan kado Teddy Bear ke Nisa. Salah satu boneka yang Nisa suka. Ditemani Iran, teman Nisa, Arsya akhirnya membawa pulang boneka Teddy Bear coklat. Banyak sekali boneka Teddy Bear, tapi yang Arsya pilih dengan saran dari Iran, ia memilih boneka itu.

Boneka itu telah sampai ke tangan nisa disaat malam Arsya mendapati BBM Nisa yang isinya terima kasih. Arsya senang karena 1) tumben ia di BBM duluan dan 2) ia senang mendapati orang yang ia sayang senang. Apalagi Arsya tahu, 3) Nisa suka Boneka itu.

Tidak terasa, kelulusan SMA sangat tidak terasa. Itu membuat Arsya dan teman lainnya sangat menghargai waktu bersama. Arsya and the geng selalu makan setelah pulang sekolah di bakso favorit mereka. Setelah semua perkara sekolah selesai, mereka jarang bertemu. Terutama Arsya dan Nisa. Awal-awal Arsya merasa normal. Setelah pengumuman dan prom Arsya baru merasakan kehilangan sesungguhnya. Liburnya hanya diisi menyendiri di kamar. Ia melanjutkan kuliah dengan hati yang terjebak masa lalu. Ia seperti tengkorak hidup. Ia lalu pergi ke tempat dimana ia membeli boneka Teddy Bear itu, lalu membeli lagi yang bentuk dan ukurannya mirip. Ia namakan boneka itu Nisa. Boneka yang ia anggap pacar. Ia sekarang menghabiskan waktunya dikamar 3 x 3 bersama boneka yang ia anggap pacar bernama Nisa. Ia kini disangka gila karenanya.

- Arsip 2016
Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar